Senin, 03 Juni 2013

Mencari 40 Orang Buta



منچاري ٤٠ اورڠ بوتا

يوڠ دوله سوده تركنل مشهور أكن كڤنداين دن كچرديكنڽ. بهكن ڤڠهولو ڤون تله مندڠر بتاڤ بيجك دن چردسڽ يوڠ دوله دلم مڽلسايكن مسأله. هيڠڬا ڤاد سواتو هاري، ڤڠهولو مڠوتوس ساورڠ ڤڬاواي اونتوك ممڠڬيل يوڠ دوله.
ستله تيبا دي رومه ڤڠهولو يڠ ديتوجو، يوڠ دوله لڠسوڠ ديهادڤكن دڠن ڤڠهولو. ماك ڤڠهولو ڤون مڽمڤايكن حاجة هندك ملكسانكن كندوري بسر. سلوروه اورڠ كمڤوڠ أكن ديؤندڠ، ترماسوك يوڠ دوله. نامون يوڠ دوله هاروس داتڠ برسام ٤٠ اورڠ بوتا.
"امڤت ڤولوه اورڠ بوتا؟"، تاڽ يوڠ دوله. "تاڤي دي كمڤوڠ كيتا إني چوما ساتو اورڠ بوتا ساج يڠ أدا، ڤك ڤڠهولو".

Sabtu, 25 Mei 2013

Mambang Linau

ممبڠ ليناو

ترسبوت قصه دي زمان دهولو، كتيكا سوڠاي سياك ماسيه برنام سوڠاي جنتن، هيدوڤ له ساؤرڠ ڤڠڬته ڤوناي برنام بوجڠ اينوك. هوتن دي كوالا ڬاسيب أدله تمڤتڽ سهاري-هاري منڠكڤ ڤوناي يڠ تربايك. ولوڤون ماهل، حصيل بوروانڽ سلالو ديننتي اورڠ.
ڤاد سواتو هاري كتيكا ديا تك كونجوڠ داڤت ڤوناي، ترلينتس دي فيكيرنڽ اونتوك ماسوك كي ولايه هوتن يڠ لبيه جاوه. ولوڤون باڽك اورڠ مڽبوت أدا ڤنوڠڬو ڤوكوك ليناو يڠ مناكوتكن، تاڤي كإڠيننڽ اونتوك منداڤت ڤوناي مڠالهكن راس تاكوتڽ.

Kamis, 27 Oktober 2011

Lidi Kejujuran

Pada akhir 1997, aku menyelesaikan tugas mengajar di Bagansiapiapi. Sebenarnya masih 7 bulan lagi pengabdianku, namun karena kasus dengan Pimpinan Pesantren, membuatku cepat2 hengkang dari sana. Kemudian aku menetap dan menyelesaikan tugas pengabdian mengajar di SD kampungku, Tebing Tinggi Okura. Selain itu, aku juga mengajar di MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah); juga mengajar anak-anak sekitar rumah dalam mendalami tajwid. Dari sinilah kisah bermula.


Rabu, 26 Oktober 2011

Gurindam Duabelas Ala Arab Melayu


Gurindam merupakan karya sastra Melayu yang hingga kini masih diposisikan sebagai golongan puisi tinggi. Bait-bait syair dalam gurindam biasanya dilantunkan dengan ragam irama, lirik dan lagu; seperti mendendangkan syair. Tapi gurindam bukan lah syair.

Sementara Gurindam Duabelas (Raja Ali Haji) merupakan karya monumental yang berisi nasehat, tunjuk ajar dan atur cara hidup bermasyarakat. Ditulis dengan tulisan Arab Melayu, kemudian dilakukan transliterasi ke huruf latin.

Karena kurangnya kepustakaan contoh Arab Melayu di dunia maya dan dunia nyata, mudah-mudahan langkah ini akan menjadi gong untuk pemunculan contoh Arab Melayu yang lainnya. Kami sebut dengan contoh Arab melayu, karena ini hanya sebagai perbandingan saja, bukan sebagai rujukan utama.


Selasa, 25 Oktober 2011

Berita Arab Melayu di RTV



Mengenang kembali berita yang sempat ditayangkan Riau Televisi pada April 2007 lalu. Upaya ini dilakukan oleh Muhammad Arif dan Jelprison melalui jasa sahabat kami Al-Syukri (Reporter) dan Sariandi (Kameramen). Pagi Ahad itu Al-Syukri dan Sariandi datang ke rumah meminta kesediaan diliput tentang penemuan program menulis Arab Melayu dengan menggunakan komputer. Kebetulan pada hari yang sama, ada berita satu halaman penuh di Riau Pos (tengkiu bang Saidul) tentang Arab Melayu Digital. Kalau pucuk dicinta ulam pun tiba, tak siapa pun yang mau nolak. Alhamdulillah.



Senin, 24 Oktober 2011

Arab Melayu Digital

Fenomena salah tulis-eja-baca yang diderita Arab Melayu selamanya takkan pernah sirna jika tidak ada upaya untuk memperbaikinya. Memang bukan suatu hal yang mudah untuk kembali meluruskan si bengkok, namun pasti ada langkah awal agar upaya perbaikan terhadap sesuatu dapat terlaksana. Akan halnya Arab Melayu, pemberitaan media massa di Riau dan mancanegara tentang temuan Arab Melayu Digital sepanjang tahun 2007, memancing kerinduan masyarakat untuk membuat agar arab Melayu kembali Berjaya. Terutama guna menyelaraskan kembali ejaan Arab Melayu di seluruh nusantara dan negara rumpun Melayu.

Penemuan ini sendiri pun sangat mengejutkan bagi kami pribadi. Kami hanyalah tamatan pesantren yang kuliah di IAIN  Susqa (sekarang UIN Suska) jurusan Tafsir Hadits. Sepanjang hari yang dikaji adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Memakai komputer pun hanya sekedar menulis makalah di Ms Word. Tidak ada yang istimewa. Lalu tiba-tiba dipercayakan Allah Ta’ala menjadi penemu Arab Melayu Digital.

Minggu, 23 Oktober 2011

Analisa Kaidah Arab Melayu


Pelajaran Bahasa Indonesia telah lama mengambil istilah asing untuk mengkaji struktur bahasa, karena diantar dengan tulisan latin. Kalau istilah-istilah asing ini juga dipakai untuk Pelajaran Arab Melayu, tentu saja sangat tidak mengena. Kajian latin sudah dipakem dengan Grammar, sementara tulisan Arab sudah dipakem dengan Nahwu-Sharf. Penyelarasan kaidah tulis-baca Arab Melayu belum dilakukan sepenuhnya. Kalau pun upaya tersebut pernah dilakukan, itu pun hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dan belum dapat dijadikan jalan keluar.

Pada penulisan Arab Melayu di Riau, terdapat banyak kejanggalan. Banyak kalangan yang protes akan bentuk sebuah tulisan - berdasarkan analisa kaidah Arab Melayu mereka sendiri - namun tak tahu harus menyampaikan protesnya pada siapa. Biasanya protes muncul dari kalangan yang memandang suatu tulisan Arab Melayu yang tidak sesuai dengan penulisan kata dalam Al-Quran.

Sayangnya, entah gagap atau latah, telah banyak orang yang menobatkan diri mereka sendiri sebagai tokoh Arab Melayu; sehingga dengan begitu beraninya masing-masing dari mereka berusaha menelurkan pemikiran untuk penyelarasan ejaan Arab Melayu. Ragam masalah dan jalan keluar diungkapkan dengan lengkap demi mencapai tujuan yang dimaksudkan. Namun ada satu letak kejanggalan mendasar yang pada akhirnya berakibat sangat fatal dalam pengembangannya. Berdasarkan analisa kaidah Arab Melayu berbasis bahasa Arab (al-Qur'an), bila dibandingkan dengan analisa kaidah Arab Melayu ciptaan mereka yang tidak merujuk pada bahasa arab, sungguh terjadi persimpangan yang begitu jauh.

Kalau hendak melakukan analisa kaidah Arab Melayu, seharusnya merujuk pada tata bahasa Arab, sebab dari sanalah seni penulisan ini berasal. Seharusnya kajian analisa kaidah Arab Melayu harus berbasis pada Nahwu dan Sharf, bukannya Grammar. Tegasnya, Arab Melayu tidak mengenal istilah konsonan dan vocal, meskipun untuk kebutuhan transliterasi semata. Penyelarasan analisa kaidah Arab Melayu belum dilakukan sepenuhnya. Kalau pun ada yang mengupayakannya, itu pun bersifat temporer dan belum dapat dijadikan jalan keluar. 

Pada 1940-an, Za’ba alias Zainal Abidin bin Ahmad (1895-1973), menyusun kaidah penulisan Jawi (Arab Melayu), untuk kebutuhan tulis-baca di semua madrasah di Malaysia. Kitab kaidah ini berpedoman pada tata bahasa Arab, dikarenakan huruf Jawi (Arab Melayu) berasal-usul dari huruf Arab yang sudah patut harus dikaji menurut kajian tata bahasa Arab. Kemudian pada tahun 1986, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia merampungkan penyusunan Ejaan Jawi Yang Disempurnakan (EJYD). Ciri-cirinya adalah:
  1. Mengklaim bahwa landasan yang digunakan ialah Jawi Za’ba (1941-1949). Proses penyempurnaan terhadap Jawi Za’ba itu dilakukan dengan lima kegiatan, yaitu; mengekalkan yang sudah kemas, melengkapkan yang kurang, mengadakan yang tiada, menjelaskan yang kabur, dan  mengemaskan yang longgar.
  2. Menyatakan bahwa konvensyen Tulisan Jawi (1984) itu “bukan sistem ejaan Jawi yang benar dan bahkan sama sekali menyimpang dari sistem ejaan yang disusun Za’ba”.
  3. Menyimpulkan bahwa EJYD lebih sempurna dari Jawi Za’ba, berupa “pembaikan” pada tata cara penulisan dan “tambahan” bentuk/lambang huruf “V” yang disifatkan sebagai penyempurna sistem ejaan lama.

Namun sebenarnya apa yang dilakukan DBP masih sangat jauh dari harapan dan bahkan sangat menyimpang dari cita-cita Za’ba. EJYD ini disusun oleh ahli bahasa Melayu yang sama sekali tidak akrab dengan sifat-sifat huruf Arab dan tata bahasa Arab. Akibatnya, EJYD dikaji dengan teori dan pakem-pakem Grammar; yang tentu saja sangat 'bertolak belakang dengan Za’ba; yang membahas Jawi berdasarkan pada ilmu Nahwu-Sarf. Beberapa masalahnya antara lain:

1. Kaf dan Geh (ك / ڬ)
Sebelumnya, mari kita baca gambar pakem di bawah ini:


Pakem ini sama sekali tidak beralasan dan tidak menyeluruh. Kaf dan Geh adalah satu kesatuan huruf, sebab Geh menggunakan batang tubuh Kaf. Maka bagaimanapun bentuk dan sifat Kaf, sepatutnya Geh juga demikian. Konvensi (ketetapan) dalam bahasa dan juga huruf Arab yang dilakukan pada masa pemerintahan Turki Utsmani di abad 16 M, telah menyepakati bahwa bentuk huruf Kaf dah Geh adalah:

2. Hamzah (ء)

Hamzah berbunyi tegas yang tidak bisa dikalahkan oleh bunyi huruf lainnya. Dia tidak elastis. Mari kita analisa:

a. Bunyi ai menurut EJYD adalah:
Baik (بـائيـق) bandingkan dengan Faidah (فائدة)

b. Bunyi au menurut EJYD adalah:
Maupun (مائوڤون) bandingkan dengan Maujud (موجود)

c. Bunyi ua menurut EJYD adalah:
Luar (لوئر) bandingkan dengan Muafiq (موافِق)

d. Bunyi ia menurut EJYD adalah:
Siapa (سيئاڤ) bandingkan dengan Qiamat (قِـيامة)



3. Hamzah Alif Maksurah (ئ)

Huruf ini berbentuk Ya tanpa titik dengan tambahan Hamzah di atasnya. Huruf ini selalu kita temukan di dalam Al-Quran dan telah mempunyai pakem dan/atau ketentuan sendiri. Dia akan membunyikan (i) pada dirinya sendiri dan/atau juga pada huruf sebelumnya. Contoh:

فـَائزٌ  |   بـِئـْـرٌ  |   بـِـئـْـسَ  |   مَـلاَئِـكـَة 

Berdasarkan contoh di atas, cobalah untuk membaca kalimat di bawah ini dengan seksama, sesuai dengan peran dan kedudukan huruf ini yang sesungguhnya.

- ڤكنبارو كوتا برتوئه(Pekanbaru Kota Bertu-ih)
- بوروڠ تيئوڠ تربڠ دڠن ريئڠ(Burung ti-iung terbang dengan ri-ing)
- ڤهلوان نسيئونل توئنكو تمبوسائي(pahluan nasi-ional Tu-inku Tambusa-i)
- هڠ توئه منوجو لئوتن دالم(Hang Tu-ih menuju la-iutan dalam)
- ڤوهون ڽيـئور مليئوق-ليئوق(Pohon Nyi-iur meli-iuq-li-iuq)


Contoh kasus untuk analisa kaidah Arab Melayu di atas hanyalah secuil dari sekian banyak kejanggalan yang dibuat oleh EJYD dan pengembang-pengembangnya. Sudah saatnya bagi kita untuk segera menyepakati sebuah ketetapan kaidah tulis baca Arab Melayu yang baik dan benar; yang tidak bertentangan dengan al-Qur'an. Dalam hal analisa kaidah Arab Melayu ini, kita tidak perlu lagi membuat kaidah baru dan/atau malah memunculkan huruf-huruf baru, sebab dengan hanya merujuk pada Nahwu dan Sharf, insya Allah sistematika Arab Melayu akan selalu sama di seluruh dunia. Semoga.

* * *